Inovasi dalam berlatih keterampilan Medis dengan menggunakan Manikin

June 19, 2008 at 8:37 am (research and publications)

Pendahuluan

Pendidikan Kedokteran sekarang ini telah maju, melibatkan teknologi yang modern untuk mendidik mahasiswa kedokteran menjadi dokter yang professional. Pendidikan ini menyangkut tiga hal penting yaitu knowledge, skills dan attitude (GMC, 2003). Tiga hal tersebut harus diberikan secara proporsional sehingga seorang mahasiswa kedokteran nantinya bisa menjadi seorang dokter yang benar-benar bisa memenuhi kompetensinya secara professional.
Untuk saat ini hampir semua institusi pendidikan kedokteran di seluruh dunia memiliki laboratorium keterampilan medis (Skills Lab) sebagai sarana mengajarkan keterampilan medis untuk mahasiswanya. Di Skills Lab mahasiswa kedokteran tidak hanya bisa belajar keterampilan medis saja, namun bisa belajar secara terintegrasi baik dari sisi skills, knowledge, maupun attitude (Nielsen dkk, 2003). Skills Lab menyediakan learning environment yang aman, nyaman, dan terstruktur untuk mahasiswa belajar keterampilan medis, bahkan dengan adanya pasien simulasi, mahasiswa kedokteran dapat berlatih berinteraksi dengan pasien dengan aman tanpa membahayakan pasien yang sebenarnya.
Di Skills Lab, mahasiswa kedokteran dapat belajar keterampilan medis secara bertahap, mulai berlatih dengan temannya, berlatih dengan manikin, sampai dengan berlatih dengan pasien simulasi. Nielsen dkk (2003), dalam penelitiannya membuktikan bawah Skills Laboratory dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa, kepercayaan diri mahasiswa, membuat mahasiswa lebih siap masuk pendidikan klinis. Namun, tetap saja kita harus ingat bahwa berlatih di Skills Lab tetap tidak dapat menggantikan latihan di situasi klinis yang sebenarnya.

Penggunaan manikin untuk berlatih
Di Skills Lab mahasiswa berlatih prosedural skills menggunakan manikin, karena tidak memungkinkan untuk diterapkan kapada teman atau pasien simulasi. Penggunaan manikin sebagai sarana berlatih mahasiswa ini sangat berguna karena dapat menggantikan bagian tubuh manusia sebagai objek untuk berlatih keterampilan medis yang kadang invasif. Penggunaan manikin ini terbukti sangat berguna, karena mahasiswa bisa berlatih berulang-ulang tanpa menyakiti pasien, mahasiswa bisa bisa berlatih secara langsung dengan tanpa takut salah dan menyakiti orang lain, meningkatkan kepercayaan diri dan menyiapkan mental mereka sebelum memasuki pendidikan klinis di rumahsakit.
Di beberapa institusi kedokteran, terutama di negara berkembang, ternyata menemukan suatu masalah besar yang harus dapat diatasi jika ingin pendidikan keterampilan medis tetap bisa berjalan dengan baik, yaitu dari faktor biaya. Anggaran biaya untuk pengadaan, perbaikan dan perawatan manikin untuk berlatih keterampilan medis sangat besar (Stark dan Fortune, 2003).
Harga manikin yang mahal, karena mayoritas import dari luar negeri cukup membuat kesulitan untuk pengadaannya. Selian itu, daya tahan manikin, perawatan dan suku cadang yang tidak mudah didapat juga menjadi masalah untuk management Skills Lab. Permasalahan ini yang akan dicari solusinya untuk kebaikan bersama, dalam rangka menyediakan sarana berlatih keterampilan medis untuk mahasiswa.
Innovasi untuk Skills Lab
Kneebone dkk (2002) membuat inovasi dengan cara mengintegrasikan mainikin dengan pasien simulasi sehingga dapat membuat suasana latihan lebih mirip dengan kondisi yang sebenarnya. Contoh yang sudah diterapkan adalah dengan memasang manikin untuk pemasangan infus intravena atau kateter urine pada pasien, memasang manikin untuk menjahit luka pada lengan pasien simulasi, dll. Dengan integrasi pasien simulasi dengan manikin tersebut, ternyata mahasiswa dapat berlatih dengan lebih terintegrasi antara keterampilan komunikasi dengan keterampilan prosedural.
Selain itu, saat ini cukup banyak inovasi yang lain dilakukan oleh beberapa institusi pendidikan kedokteran di negara berkembang untuk dapat mambuat biaya pelaksanaan Skills Lab lebih efisien, yaitu antara lain dengan mengalihkan setting pendidikan ke situasi klinis yang sebenarnya (Dornan dkk, 2006). Mahasiswa kedokteran yang berlatih di situasi klinis akan mendapatkan banyak kelebihan dibanding hanya berlatih di laboratorium saja.
Menurut Dornan dkk (2006), pemaparan sedini mungkin mahasiswa kedokteran dengan situasi klinis dapat meningkatkan kepedulian terhadap pasien, meningkatkan motivasi dan mengurangi stress ketika bertemu pasien, bertemu klinisi sebagai role model, membuat mahasiswa lebih peduli terhadap sisi sosial dan psikologis pasien, dan tentu saja terbuti dapat meningkatkan kemampuan keterampilan komunikasi dan pemeriksaan fisik mahasiswa. Stark dan Fortune (2003) merekomendasikan Puskesmas sebagai tempat untuk berlatih keterampilan medis mahasiswa S1.
Dengan memberi kesempatan mahasiswa kedokteran untuk berlatih di situasi klinis, akan memberikan pengalaman yang sangat berharga buat mereka karena bagaimana pun juga pendidikan keterampilan medis di laboratorium tidak akan bisa menggantikan pendidikan di situasi klinis yang sebenarnya (Hampshire, 1998; Bradley dan Postlethwaite, 2003).
Dari sudut pandang pasien, dari berbagai penelitian yang sudah dilakukan, ternyata memberikan tanggapan yang positif terhadap program ini. Pasien merasa senang dapat berpartisipasi aktif di dalam pendidikan kedokteran dan berinteraksi dengan mahasiswa maupun supervisor klinisnya. Dalam hal ini yang harus diperhatikan oleh supervisor adalah informed consent untuk pasien dan perlindungan terhadap mahasiswa maupun pasien dari hal-hal yang tidak diinginkan (Howe dan Anderson, 2003).

Inovasi di UGM
Selain menempatkan mahasiswa S1 kedokteran untuk berlatih Puskesmas, di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), pendidikan keterampilan medis tetap dijalankan dengan menggunakan manikin di Skills Lab dan tentu saja ini membutuhkan biaya yang besar untuk pengelolaannya. Oleh karena itu, didirikan sebuah bengkel untuk memperbaiki dan memproduksi manikin sendiri dengan berkolaborasi bersama Bagian Anatomi. Bagian Anatomi bersama dengan Skills Lab merancang manikin yang bisa diproduksi sendiri dengan biaya yang murah dengan kualitas tetap bagus. Konsep kerja manikin didiskusikan dengan Skills Lab dan disesuaikan dengan tujuan belajar serta kurikulum, sedangkan pembuatan fisik dan bentuk manikin diserahkan sepenuhnya kepada bagian Anatomi selaku pihak yang lebih tahu mengenai anatomi tubuh manusia.
Selain itu, jika diperlukan sarana elektronik untuk menunjang fungsi manikin, pihak Skills Lab FK UGM bekerjasama dengan unit Production House FK UGM yang terdiri dari teknisi ahli dibidang elektronika yang secara tidak langsung bekerjasama dengan Fakultas MIPA dan Teknik Elektro UGM. Production house FK UGM telah dapat memproduksi instrumen audiovisual, monitor, dan lain-lain yang dapat diintegrasikan dengan tubuh manikin sehingga dapat lebih baik fungsinya untuk digunakan latihan mahasiswa.
Keuntungan manikin yang di produksi sendiri oleh FK UGM adalah harganya jauh lebih murah jika di bandingkan oleh manikin impor, suku cadang mudah didapatkan, perawatan dan perbaikan lebih murah karena terdiri dari instrumen yang sederhana, dll. Melihat banyaknya keuntungan ini maka untuk saat ini Bengkel Anatomi FK UGM sudah mendapatkan pesanan dari luar FK UGM maupun luar negeri.
Dengan inovasi ini, diharapkan pembiayaan Skills Lab sebagai sarana untuk berlatih keterampilan medis mahasiswa dapat lebih terjangkau dan tetap sesuai dengan standar yang diinginkan institusi. Dengan mempunyai bengkel sendiri, biaya untuk perbaikan, perawatan dan produksi manikin menjadi lebih efisien.

Kesimpulan dan Saran
Pendidikan keterampilan medis sangat penting bagi pendidikan dokter untuk mencapai kompetensi maksimal. Inovasi di Skills Lab dengan penggunaan manikin dipasang pada pasien simulasi untuk mengintegrasikan latihan komunikasi dengan prosedural medis, menempatkan mahasiswa untuk berlatih keterampilan medis di situasi klinis sehingga mengurangi beban Skills Lab, serta mendirikan bengkel untuk merawat, memperbaiki, dan memproduksi manikin sendiri ternyata sangat berguna untuk efisiensi biaya Skills Lab.

Referensi

• Bradley, P. and Postlethwaite, K. (2003). Setting up a clinical skills learning facility. Medical Education, 37, 6-13.

• Dornan, T., Littlewood, S., Margolis, S.A., Scherpbier, A., Spencer, J., and Ypinazar, V. (2006). How can experience in clinical and community settings contribute to early medical education? A BEME systematic review. Medical Teacher, 28, 1, 3-18.

• General Medical Council (GMC). (2003). Tomorrow’s Doctors Recommendations on undergraduate medical education. UK: General Medical Council.

• Hampshire. (1998). Providing early clinical experience in primary care. Medical Education, 32 (5), 495–501.

• Howe, A. and Anderson, J. (2003). Involving patients in medical education. BMJ, 327, 326-328.

• Kneebone, R., Kidd. J., Nestel, D., Asvall, S., Paraskeva, P., and Darzi, A. (2002). An innovative model for teaching and learning clinical procedures. Medical Education, 36, 628-634.

• Nielsen, D.G., Moercke, A.M., Hansen, G.W., and Eika, B. (2003). Skills Training in Laobratory and Clerkship: Connections, Similarities, and Differences. Medical Education online, 8, 12.

• Stark, P. and Fortune, F. (2003). Teaching clinical skills in developing countries: Are Clinical Skills Centres the answer?. Education for Health, 16, 3, 298-306.

by. Widyandana, MD, MHPE
Skills lab – Dept. Medical Education
Fac. of Medicine Gadjah Mada University,

Now, the author is PhD Student Maastricht University, Netherlands supervised by Prof. Albert Scherpbier, MD, PhD and Gerard Majoor, PhD

This paper Published on; STROMA ATMAJAYA, Jakarta, 2007

Contact for further discussion: widyandana@yahoo.com

Post a Comment