Peran Dokter Keluarga di Masyarakat
PERTAMA yang perlu kita ketahui adalah, apa itu dokter keluarga? Dokter keluarga sebenarnya sering dipanggil dengan berbagai istilah lain, di luar negeri sering diistilahkan family doctor, family physician, general practice, dll. Sedangkan di Indonesia, dokter keluarga sedang dimulai untuk diterapkan dalam sistem pelayanan kesehatan kita. Dokter keluarga di Indonesia bisa dilakukan oleh seorang dokter umum yang sudah memenuhi pendidikan sertifikasi, atau pendidikan lanjut specialisasi Family Medicine (Sp FM). Pendidikan spesialis dokter keluarga saat ini sedang di pelopori oleh Fakultas Kedokteran UGM dengan bekerja sama dengan National University of Singapore (NUS), sehingga akan berkualitas standard internasional.
Seperti kita ketahui bersama, spesialis dokter keluarga memang sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala dan sistem ini banyak diterapkan di negara maju. Dokter keluarga adalah seorang dokter yang memenuhi kualifikasi untuk memberikan pelayanan secara personal dalam arti mengenal pasiennya secara baik, primer, komprehensif dan berkelanjutan. Pelayanan dokter keluarga juga akan selalu terkait dengan keluarga pasien, komunitas dan lingkungan pasien tersebut tinggal. Dengan keterangan di atas, kita bisa melihat bahwa kualifikasi dokter keluarga jelas lebih tinggi dibandingkan dengan dokter umum, karena dalam proses pendidikannya pun seorang dokter keluarga harus mempelajari lebih banyak hal untuk meningkatkan kompetensinya, untuk tindakan medis, pencegahan penyakit dan efisiensi pelayanan kesehatan.
Dokter keluarga dapat bertemu pasiennya di klinik, RS maupun di rumah jika diperlukan untuk kunjungan rumah. Kunjungan rumah sangat berguna antara lain untuk menemukan faktor risiko penyebab terjadinya penyakit yang diderita pasiennya yang biasanya berkaitan dengan faktor lingkungan dan keluarganya. Dengan kunjungan rumah, dokter keluarga dapat melihat secara langsung kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal pasien sehingga dapat dengan teliti mencari faktor risiko penyebab penyakit dan dapat dengan jelas memberikan saran kepada pasien untuk mencegah penyakitnya kambuh kembali. Tentu saja kunjungan rumah tidak dilakukan ke semua pasien, kunjungan ini hanya dilakukan bila diperlukan untuk mencari faktor risiko pada penyakit pasien yang mungkin selalu kambuh-kambuhan, atau mungkin ada sebab khusus lainnya.
Dokter keluarga juga sebenarnya paling ideal untuk memberikan perawatan pasien di rumah/home care, karena spesialis dokter keluarga memang ahli dalam bidang tersebut, dokter keluarga akan selalu memberikan terapi kepada pasien secara menyeluruh, komprehensif dan selalu melibatkan faktor keluarga dan lingkungan. Dokter keluarga akan memberikan pendidikan khusus kepada keluarga atau orang yang merawat pasien di rumah, sehingga perawatannya dapat lebih efektif dan efisien. Dengan perawatan di rumah ini, akan dirasakan bahwa beban keluarga akan lebih ringan dan biayanya pun cenderung lebih murah dibanding harus mondok di rumah sakit. Namun, dalam hal ini untuk penyakit yang memerlukan penanganan intensif dan membutuhkan fasilitas yang lengkap tentu tidak dapat dilakukan perawatan di rumah, untuk kasus seperti ini dokter keluarga akan merujuk ke rumah sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik untuk pasiennya. Dokter keluarga juga berkolaborasi dengan Puskesmas dalam memberikan pelayanan primernya, sehingga dapat berjalan secara komprehensif dengan program-program kesehatan dari pemerintah, dll.
Kalau kita mencermati konsep dokter keluarga tersebut di atas sebenarnya seakan berusaha mengembalikan peran dokter kembali ke peran yang sebenarnya seperti dahulu. Dahulu figure seorang dokter dikenal sebagai figure yang selalu dekat dengan pasiennya, dekat dengan masyarakat, dan benar-benar mengerti kehidupan sehari-hari pasiennya. Dokter tidak segan-segan untuk turun langsung ke masyarakat dan mengunjungi pasiennya di rumah sehingga pertolongan dapat diberikan secara cepat jika diperlukan. Dokter keluarga akan selalu mendampingi pasien dan keluarganya secara intensif ketika diperlukan, dan memberikan saran-saran untuk terapi yang tepat bagi pasien sehingga sering juga disebut sebagai “gate keeper” pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh seorang spesialis dokter keluarga memang bersifat umum dan menyeluruh, konsep ini sangat berbeda dengan cabang ilmu spesialis lainnya yang cenderung terfokus ke satu bidang kecil saja. Inilah yang membedakan konsep dokter keluarga dengan cabang spesialisasi kedokteran lainnya.
Dengan adanya sistem dokter keluarga nantinya diharapkan setiap keluarga dalam suatu area tertentu akan dijamin kesehatannya secara umum oleh dokter tersebut. Dalam sistem ini dapat dipastikan bahwa semua warga masyarakat secara adil dan merata dapat mendapatkan pelayanan kesehatan dari dokter keluarganya sendiri. Upaya-upaya pencegahan penyakit, pemberian informasi kesehatan dan pelayanan kesehatan primer akan dapat diberikan semua lapisan masyarakat secara adil dan bisa dipercaya. Diharapkan dengan pelayanan dokter keluarga ini akan membuat pembiayaan kesehatan menjadi lebih efisien karena diutamakan untuk level pencegahan penyakit secara komprehensif.
Rencana pemerintah untuk masa depan adalah menerapkan sistem dokter keluarga secara menyeluruh di Indonesia dan sistem pembiayaannya pun akan ditanggung oleh pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat. Kita berharap, semoga perubahan sistem ini dapat meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat di Indonesia.
*) dr. Widyandana, MHPE,
adalah peserta pendidikan spesialisasi
dokter keluarga, FK UGM, saat ini sebagai staf di Fakultas Kedokteran UGM, aktivis PKBI DIY.
*) Artikel ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 3 September 2008.