Konvensional Kurikulum VS PBL Kurikulum VS KBK Kurikulum???
Kurikulum Konvensional??
Kurikulum Problem Based Learning (PBL)??
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)??
Ini adalah ajang diskusi, mana yang paling baik dari tiga kurikulum tersebut? Apakah anda tahu bedanya? Apakah anda benar-benar mengerti kelebihan dan kekurangan masing2?
Mari berdiskusi, agar pemahaman kita semua lebih baik lagi.. bisa lewat Blog ini atau lewat email; widyandana@yahoo.com
Prinsip-prinsip Integrasi Pendidikan Keterampilan Medis untuk Kurikulum Berbasis Kompetensi
Secara internasional dalam General Medical Council (2003) di “Tomorrow’s Doctor” menyatakan bahwa “The core curriculum must set out the essential knowledge, skills and attitudes students must have by the time they graduate.” Secara internasional sudah ditentukan bahwa ternyata pencapaian kompetensi sangat ditekankan untuk semua institusi pendidikan kedokteran. Dalam hal ini, kita harus bersyukur bahwa di tingkat nasional, ada Standar Kompetensi Dokter Indonesia yang dapat menjadi acuan bagi semua fakultas kedokteran di Indonesia untuk menyusun kurrikulum.
Tentu saja kita harus menyadari bahwa ternyata pencapaian kompetensi bagi mahasiswa kedokteran tidaklah mudah, perlu ada proses belajar yang terintegrasi, dan sistem yang baik untuk mencapainya. Oleh karena itu, untuk saat ini banyak institusi melakukan inovasi pendidikan, termasuk didalamnya; pengembangan kurrikulum, penambahan/ pengurangan masa study, dan bahkan perubahan metoda pembelajaran yang semua itu untuk dapat mencapai kompetensi tersebut. Sehingga saat ini di Indonesia sedang marak istilah-istilah PBL (Problem Based Learning), KBK (Kurrikulum Berbasis Kompetensi), Skills Lab, dll.
Penyusunan kurikulum pendidikan kedokteran ini tidaklah mudah, karena kita tahu bahwa komponen kompetensi terdiri dari banyak hal, harus terintegrasi mengenai sisi teori, keterampilan, perilaku, maupun nilai-nilai professional dalam kurikulum tersebut. Ada beberapa prinsip dasar yang harus kita pegang, ketika menyusun kurrikulum KBK, yaitu:
- Kita cermati Standar Kompetensi Dokter Indonesia, dan kita usahakan untuk dapat mengintegrasikan sisi Knowledge, Skills dan Professional Behavior dalam suatu kerangka kurikulum yang terintegrasi, baik dilevel makro, meso, maupun mikro kurikulum.
- Integrated Horizontally, semua materi yang di intergasikan dalam suatu block harus dalam satu konteks yang sama. Topik block, kuliah, materi diskusi tutorial, materi untuk keterampilan medis di Skills lab, dan praktikum sebaiknya terintegrasi secara baik dalam suatu block. Perlu dihindari beban dalam block yang berlebihan, atau sebaliknya, serta perlu di perhatikan materi-materi yang sebenarnya dipaksakan masuk dalam block padahal relasinya jauh dari topik.
- Integrated Vertically, semua materi yang ada harus teintegrasi dari satu block, dengan materi block sebelum dan sesudahnya. Materi yang diajarkan dalam satu block, sudah semestinya melanjutkan materi yang sebelumnya sehingga dimulai dari yang paling sederhana, ditingkatkan level kesulitannya, sampai nantinya mempelajari suatu hal yang bersifat lebih kompleks. Penyusunan materi dari simple ke kompleks ini tentu saja harus dibuat secara luas sehingga dapat di integrasikan dengan baik.
- Integrated Longitudinally, semua materi yang diajarkan dalam suatu kurikulum, sebaiknya berkelanjutan dari awal sampai akhir harus terlihat garis benang merahnya. Tidak disarankan pemberian materi yang terpisah-pisah, dalam satu atau dua block saja, tanpa ada kelanjutan dengan block lainnya. Susunan yang baik, materi dapat selalu diajarkan berkelanjutan, dengan derajat yang selalu ditingkatkan dalam suatu kurikulum KBK, baik dari sisi teori maupun prakteknya. Selain itu perlu dipikirkan bahwa level pembimbingan juga harus dikurangi seiring dengan meningkatnya kompetensi mahasiswa. Untuk mahasiswa yang masih awal harus banyak dibimbing, namun untuk mahasiswa yang tingkat lebih tinggi harus di support untuk berani bertindak lebih mandiri.
- Integrated Spirally, ini berarti bahwa materi-materi yang tersusun dalam block-block di kurikulum KBK harus diberikan pengulangan-pengulangan dengan integrasi yang baik. Pengulangan ini penting dilakukan, karena kita sadar bahwa secara normal seseorang akan lupa terhadap materi yang sudah lama diajarkan dan tidak pernah diulang kembali. Sedangkan, pengulangan disini tidak boleh hanya mengulang, tetapi tetap harus dibuat suatu inovasi dimana pengulangan tersebut tidak bersifat membosankan dan tetap menarik bagi mahasiswa untuk belajar dan berlatih. Harus ada variasi latihan dan metoda pembelajaran untuk membuat tetap menarik.
Dapat disimpulkan bahwa penyusunan kurrikulum KBK tidaklah mudah, harus dipikirkan integrasi yang menyeluruh untuk teori, keterampilan, maupun perilaku professional dengan kaidah-kaidah diatas. Pemetaan kurikulum baik di level makro, meso maupun mikro sebaiknya dilakukan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu memang perlu di pelajari teori-teori ilmiah dalam keilmuan medical education, atau dibantu seorang yang mengerti konsep ilmu pendidikan kedokteran dalam melaksanakan penyusunan kurikulum tersebut.
References
• General Medical Council (GMC). (2003). Tomorrow’s Doctors Recommendations on undergraduate medical education. UK: General Medical Council.
• Remmen, R., Scherpbier, A., van der Vleuten, C., Denekens, J., Derese, A., Hermann, I., Hoogenboom, R., Kramer, A., van Rossum, H., van Royen, P., and Bossaert, L. (2001). Effectivenes of basic clinical skills training programes: a cross-sectional comparison of four medical schools. Medical Education, 35, 121-128.
• Lynagh, M., Burton, R., Fisher, R.S. (2007). A systematic review of medical skills laboratory training: where to from here?. Medical Education, 41, 879-887.
• Van Marrienboer JJG, Clark RE, de Croock MBM. Blueprints for complex learning: The 4C/ID-model. ETR&D. 2002; 50: 39-64
• Stark, P. and Fortune, F. (2003). Teaching clinical skills in developing countries: Are Clinical Skills Centres the answer?. Education for Health, 16, 3, 298-306.
Contact:
dr. Widyandana, MHPE
Staff Skills lab dan Bagian Pendidikan Kedokteran FK UGM
Mahasiswa S3 Maastricht University bidang Medical Education
Email: widyandana@yahoo.com