Peran Dokter Keluarga di Masyarakat
PERTAMA yang perlu kita ketahui adalah, apa itu dokter keluarga? Dokter keluarga sebenarnya sering dipanggil dengan berbagai istilah lain, di luar negeri sering diistilahkan family doctor, family physician, general practice, dll. Sedangkan di Indonesia, dokter keluarga sedang dimulai untuk diterapkan dalam sistem pelayanan kesehatan kita. Dokter keluarga di Indonesia bisa dilakukan oleh seorang dokter umum yang sudah memenuhi pendidikan sertifikasi, atau pendidikan lanjut specialisasi Family Medicine (Sp FM). Pendidikan spesialis dokter keluarga saat ini sedang di pelopori oleh Fakultas Kedokteran UGM dengan bekerja sama dengan National University of Singapore (NUS), sehingga akan berkualitas standard internasional.
Seperti kita ketahui bersama, spesialis dokter keluarga memang sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala dan sistem ini banyak diterapkan di negara maju. Dokter keluarga adalah seorang dokter yang memenuhi kualifikasi untuk memberikan pelayanan secara personal dalam arti mengenal pasiennya secara baik, primer, komprehensif dan berkelanjutan. Pelayanan dokter keluarga juga akan selalu terkait dengan keluarga pasien, komunitas dan lingkungan pasien tersebut tinggal. Dengan keterangan di atas, kita bisa melihat bahwa kualifikasi dokter keluarga jelas lebih tinggi dibandingkan dengan dokter umum, karena dalam proses pendidikannya pun seorang dokter keluarga harus mempelajari lebih banyak hal untuk meningkatkan kompetensinya, untuk tindakan medis, pencegahan penyakit dan efisiensi pelayanan kesehatan.
Dokter keluarga dapat bertemu pasiennya di klinik, RS maupun di rumah jika diperlukan untuk kunjungan rumah. Kunjungan rumah sangat berguna antara lain untuk menemukan faktor risiko penyebab terjadinya penyakit yang diderita pasiennya yang biasanya berkaitan dengan faktor lingkungan dan keluarganya. Dengan kunjungan rumah, dokter keluarga dapat melihat secara langsung kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal pasien sehingga dapat dengan teliti mencari faktor risiko penyebab penyakit dan dapat dengan jelas memberikan saran kepada pasien untuk mencegah penyakitnya kambuh kembali. Tentu saja kunjungan rumah tidak dilakukan ke semua pasien, kunjungan ini hanya dilakukan bila diperlukan untuk mencari faktor risiko pada penyakit pasien yang mungkin selalu kambuh-kambuhan, atau mungkin ada sebab khusus lainnya.
Dokter keluarga juga sebenarnya paling ideal untuk memberikan perawatan pasien di rumah/home care, karena spesialis dokter keluarga memang ahli dalam bidang tersebut, dokter keluarga akan selalu memberikan terapi kepada pasien secara menyeluruh, komprehensif dan selalu melibatkan faktor keluarga dan lingkungan. Dokter keluarga akan memberikan pendidikan khusus kepada keluarga atau orang yang merawat pasien di rumah, sehingga perawatannya dapat lebih efektif dan efisien. Dengan perawatan di rumah ini, akan dirasakan bahwa beban keluarga akan lebih ringan dan biayanya pun cenderung lebih murah dibanding harus mondok di rumah sakit. Namun, dalam hal ini untuk penyakit yang memerlukan penanganan intensif dan membutuhkan fasilitas yang lengkap tentu tidak dapat dilakukan perawatan di rumah, untuk kasus seperti ini dokter keluarga akan merujuk ke rumah sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik untuk pasiennya. Dokter keluarga juga berkolaborasi dengan Puskesmas dalam memberikan pelayanan primernya, sehingga dapat berjalan secara komprehensif dengan program-program kesehatan dari pemerintah, dll.
Kalau kita mencermati konsep dokter keluarga tersebut di atas sebenarnya seakan berusaha mengembalikan peran dokter kembali ke peran yang sebenarnya seperti dahulu. Dahulu figure seorang dokter dikenal sebagai figure yang selalu dekat dengan pasiennya, dekat dengan masyarakat, dan benar-benar mengerti kehidupan sehari-hari pasiennya. Dokter tidak segan-segan untuk turun langsung ke masyarakat dan mengunjungi pasiennya di rumah sehingga pertolongan dapat diberikan secara cepat jika diperlukan. Dokter keluarga akan selalu mendampingi pasien dan keluarganya secara intensif ketika diperlukan, dan memberikan saran-saran untuk terapi yang tepat bagi pasien sehingga sering juga disebut sebagai “gate keeper” pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh seorang spesialis dokter keluarga memang bersifat umum dan menyeluruh, konsep ini sangat berbeda dengan cabang ilmu spesialis lainnya yang cenderung terfokus ke satu bidang kecil saja. Inilah yang membedakan konsep dokter keluarga dengan cabang spesialisasi kedokteran lainnya.
Dengan adanya sistem dokter keluarga nantinya diharapkan setiap keluarga dalam suatu area tertentu akan dijamin kesehatannya secara umum oleh dokter tersebut. Dalam sistem ini dapat dipastikan bahwa semua warga masyarakat secara adil dan merata dapat mendapatkan pelayanan kesehatan dari dokter keluarganya sendiri. Upaya-upaya pencegahan penyakit, pemberian informasi kesehatan dan pelayanan kesehatan primer akan dapat diberikan semua lapisan masyarakat secara adil dan bisa dipercaya. Diharapkan dengan pelayanan dokter keluarga ini akan membuat pembiayaan kesehatan menjadi lebih efisien karena diutamakan untuk level pencegahan penyakit secara komprehensif.
Rencana pemerintah untuk masa depan adalah menerapkan sistem dokter keluarga secara menyeluruh di Indonesia dan sistem pembiayaannya pun akan ditanggung oleh pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat. Kita berharap, semoga perubahan sistem ini dapat meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat di Indonesia.
*) dr. Widyandana, MHPE,
adalah peserta pendidikan spesialisasi
dokter keluarga, FK UGM, saat ini sebagai staf di Fakultas Kedokteran UGM, aktivis PKBI DIY.
*) Artikel ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 3 September 2008.
DEVELOPING SIMULATED PATIENTS TOWARDS STANDARDIZED CLINICAL COMPETENCE
POSTER ABSTRACT
By: dr. Widyandana, MHPE
Simulated patient Coordinator in Skills Lab
Department of Medical Education
Gadjah Mada University
————————
Overview
The Skills Training Centre in the Faculty of Medicine of Gadjah Mada University (GMU) is developing simulated patient regarding the needs of early clinical exposure where students can learn clinical skills gradually and systematically, as preparation towards standardized clinical competence.
In the skills training program, innovative approach to enhance the realism is by combining the use of mannequins and standardized patients in the Skills Lab4.
Simulated Patients (SP) is only one term used to describe individuals trained to portray the history, physical findings and effects of an actual patient. They have also been called “programmed patients”, “pseudo patients”, “surrogate patients” or “standardized patient” 6.
SPs have so many advantages and several disadvantages2. The examples for advantages of SPs are: available at any time and any situation, available in a non clinical setting, SPs can be standardized (consistent content), provide clinical training for beginner’s medical students provides direct feedback about interpersonal skills and offers a flexible educational tool2. The disadvantages of SPs are: resource intensive and too complicated5, recruiting, training and organization SP’s is time consuming3 and high cost to pay SPs5.
Realizing the advantages and disadvantages of SPs, GMU are developing Simulated Patient Cycle for improving the use of SP in the Skills Lab Faculty of Medicine GMU.
The Cycle of Management SP in Skills Lab including;
Recruitment –> Training –> management role of SP –> Evaluation and Feedback
Evaluation and Feedback
Faculty of Medicine GMU adapts the Maastricht Assessment of Simulated Patients (MaSP) 8. SPs should be observed regularly and given detailed feedback, coaching and continued training1. Feedback for SPs comes from students and instructors8. In the survey to the students in GMU, shows that; the students still believe that SPs in GMU are not good enough. It still needs training for acting skills and giving constructive feedback to the students.
Training
There is no consensus or standard for SP’s training1. The techniques employed in the training are aimed at helping the SP actually take on the real patient problem as a believable self role6. Application of 4C/ID model in training of SP could be ideal. 4 components for Instructional Design are; Learning tasks, Supportive information, Just in time information, Part task practice7 .
The Role of SP
Ideally for quality assurance purpose, SP face students not more than 3-4 consecutive times (10-20 minutes/session) 1. Develop SP handbook, training protocol and case material template are important for SPs1. SP have to be well paid and manage.
Recruitment
Adamo (2003) give several criteria on recruiting SPs; age, language, gender, body habits, findings on physical examination, including scars, stretch marks, physical functionality, etc.
Summary
- SPs are very useful tools for the skills training program and the application of Simulated Patient Cycle for managing SP could be a good choice.
- Considering the quality assurance and standardization of SPs, the SPs should be observed, evaluated and trained regularly.
- Using simulated patients combined with other resources in Skills Lab offer high quality skills training program towards standardized clinical competence and assessment.
References
1. Adamo G, 2003. Simulated and standardized patients in OSCE’s: achievements and chalanges 1993-2003. Jurnal Medical Teacher, vol 25: 262-270
2. Barrow, H.S., 1987. Simulated (Standardized) Patients and other human simulations. Chapel Hill: Health Sciences Consortium.
3. Collins, J.P. and Patel, V.J., 1986. AMEE Medical Education Guide No. 13: Real Patients, Simulated Patients and simulator in clinical examinations. Medical Teacher, 20 (6), 508-521.
4. Good, M.L., 2003. Patient simulation for training basic and advanced clinical skills. Journal Medical Education, vol 37: 14-21
5. Kassebaum, D.G., 1993. On standardized patients and clinical skills assessment. Academic Medicine, 65, 5, 307.
6. Neuffeld, V.R. and Norman, G.R., 1991. Assessing Clinical Competence. Springer Publishing Company: New York.
7. Van Marrienboer JJG, Clark RE, de Croock MBM., 2002. Blueprints for complex learning: The 4C/ID-model. ETR&D., vol 50: 39-64
8. Wind, Lidewij A., et.al., 2004. Assessing simulated patients in an educational setting: the MaSP (Maastricht Assessment of Simulated Patients). Jurnal Medical Education, vol 38: 39-44
This Poster was published on PEPKI III Conference in Bali, 2005
Further discussion, contact: widyandana@yahoo.com
Inovasi dalam berlatih keterampilan Medis dengan menggunakan Manikin
Pendahuluan
Pendidikan Kedokteran sekarang ini telah maju, melibatkan teknologi yang modern untuk mendidik mahasiswa kedokteran menjadi dokter yang professional. Pendidikan ini menyangkut tiga hal penting yaitu knowledge, skills dan attitude (GMC, 2003). Tiga hal tersebut harus diberikan secara proporsional sehingga seorang mahasiswa kedokteran nantinya bisa menjadi seorang dokter yang benar-benar bisa memenuhi kompetensinya secara professional.
Untuk saat ini hampir semua institusi pendidikan kedokteran di seluruh dunia memiliki laboratorium keterampilan medis (Skills Lab) sebagai sarana mengajarkan keterampilan medis untuk mahasiswanya. Di Skills Lab mahasiswa kedokteran tidak hanya bisa belajar keterampilan medis saja, namun bisa belajar secara terintegrasi baik dari sisi skills, knowledge, maupun attitude (Nielsen dkk, 2003). Skills Lab menyediakan learning environment yang aman, nyaman, dan terstruktur untuk mahasiswa belajar keterampilan medis, bahkan dengan adanya pasien simulasi, mahasiswa kedokteran dapat berlatih berinteraksi dengan pasien dengan aman tanpa membahayakan pasien yang sebenarnya.
Di Skills Lab, mahasiswa kedokteran dapat belajar keterampilan medis secara bertahap, mulai berlatih dengan temannya, berlatih dengan manikin, sampai dengan berlatih dengan pasien simulasi. Nielsen dkk (2003), dalam penelitiannya membuktikan bawah Skills Laboratory dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa, kepercayaan diri mahasiswa, membuat mahasiswa lebih siap masuk pendidikan klinis. Namun, tetap saja kita harus ingat bahwa berlatih di Skills Lab tetap tidak dapat menggantikan latihan di situasi klinis yang sebenarnya.
Penggunaan manikin untuk berlatih
Di Skills Lab mahasiswa berlatih prosedural skills menggunakan manikin, karena tidak memungkinkan untuk diterapkan kapada teman atau pasien simulasi. Penggunaan manikin sebagai sarana berlatih mahasiswa ini sangat berguna karena dapat menggantikan bagian tubuh manusia sebagai objek untuk berlatih keterampilan medis yang kadang invasif. Penggunaan manikin ini terbukti sangat berguna, karena mahasiswa bisa berlatih berulang-ulang tanpa menyakiti pasien, mahasiswa bisa bisa berlatih secara langsung dengan tanpa takut salah dan menyakiti orang lain, meningkatkan kepercayaan diri dan menyiapkan mental mereka sebelum memasuki pendidikan klinis di rumahsakit.
Di beberapa institusi kedokteran, terutama di negara berkembang, ternyata menemukan suatu masalah besar yang harus dapat diatasi jika ingin pendidikan keterampilan medis tetap bisa berjalan dengan baik, yaitu dari faktor biaya. Anggaran biaya untuk pengadaan, perbaikan dan perawatan manikin untuk berlatih keterampilan medis sangat besar (Stark dan Fortune, 2003).
Harga manikin yang mahal, karena mayoritas import dari luar negeri cukup membuat kesulitan untuk pengadaannya. Selian itu, daya tahan manikin, perawatan dan suku cadang yang tidak mudah didapat juga menjadi masalah untuk management Skills Lab. Permasalahan ini yang akan dicari solusinya untuk kebaikan bersama, dalam rangka menyediakan sarana berlatih keterampilan medis untuk mahasiswa.
Innovasi untuk Skills Lab
Kneebone dkk (2002) membuat inovasi dengan cara mengintegrasikan mainikin dengan pasien simulasi sehingga dapat membuat suasana latihan lebih mirip dengan kondisi yang sebenarnya. Contoh yang sudah diterapkan adalah dengan memasang manikin untuk pemasangan infus intravena atau kateter urine pada pasien, memasang manikin untuk menjahit luka pada lengan pasien simulasi, dll. Dengan integrasi pasien simulasi dengan manikin tersebut, ternyata mahasiswa dapat berlatih dengan lebih terintegrasi antara keterampilan komunikasi dengan keterampilan prosedural.
Selain itu, saat ini cukup banyak inovasi yang lain dilakukan oleh beberapa institusi pendidikan kedokteran di negara berkembang untuk dapat mambuat biaya pelaksanaan Skills Lab lebih efisien, yaitu antara lain dengan mengalihkan setting pendidikan ke situasi klinis yang sebenarnya (Dornan dkk, 2006). Mahasiswa kedokteran yang berlatih di situasi klinis akan mendapatkan banyak kelebihan dibanding hanya berlatih di laboratorium saja.
Menurut Dornan dkk (2006), pemaparan sedini mungkin mahasiswa kedokteran dengan situasi klinis dapat meningkatkan kepedulian terhadap pasien, meningkatkan motivasi dan mengurangi stress ketika bertemu pasien, bertemu klinisi sebagai role model, membuat mahasiswa lebih peduli terhadap sisi sosial dan psikologis pasien, dan tentu saja terbuti dapat meningkatkan kemampuan keterampilan komunikasi dan pemeriksaan fisik mahasiswa. Stark dan Fortune (2003) merekomendasikan Puskesmas sebagai tempat untuk berlatih keterampilan medis mahasiswa S1.
Dengan memberi kesempatan mahasiswa kedokteran untuk berlatih di situasi klinis, akan memberikan pengalaman yang sangat berharga buat mereka karena bagaimana pun juga pendidikan keterampilan medis di laboratorium tidak akan bisa menggantikan pendidikan di situasi klinis yang sebenarnya (Hampshire, 1998; Bradley dan Postlethwaite, 2003).
Dari sudut pandang pasien, dari berbagai penelitian yang sudah dilakukan, ternyata memberikan tanggapan yang positif terhadap program ini. Pasien merasa senang dapat berpartisipasi aktif di dalam pendidikan kedokteran dan berinteraksi dengan mahasiswa maupun supervisor klinisnya. Dalam hal ini yang harus diperhatikan oleh supervisor adalah informed consent untuk pasien dan perlindungan terhadap mahasiswa maupun pasien dari hal-hal yang tidak diinginkan (Howe dan Anderson, 2003).
Inovasi di UGM
Selain menempatkan mahasiswa S1 kedokteran untuk berlatih Puskesmas, di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), pendidikan keterampilan medis tetap dijalankan dengan menggunakan manikin di Skills Lab dan tentu saja ini membutuhkan biaya yang besar untuk pengelolaannya. Oleh karena itu, didirikan sebuah bengkel untuk memperbaiki dan memproduksi manikin sendiri dengan berkolaborasi bersama Bagian Anatomi. Bagian Anatomi bersama dengan Skills Lab merancang manikin yang bisa diproduksi sendiri dengan biaya yang murah dengan kualitas tetap bagus. Konsep kerja manikin didiskusikan dengan Skills Lab dan disesuaikan dengan tujuan belajar serta kurikulum, sedangkan pembuatan fisik dan bentuk manikin diserahkan sepenuhnya kepada bagian Anatomi selaku pihak yang lebih tahu mengenai anatomi tubuh manusia.
Selain itu, jika diperlukan sarana elektronik untuk menunjang fungsi manikin, pihak Skills Lab FK UGM bekerjasama dengan unit Production House FK UGM yang terdiri dari teknisi ahli dibidang elektronika yang secara tidak langsung bekerjasama dengan Fakultas MIPA dan Teknik Elektro UGM. Production house FK UGM telah dapat memproduksi instrumen audiovisual, monitor, dan lain-lain yang dapat diintegrasikan dengan tubuh manikin sehingga dapat lebih baik fungsinya untuk digunakan latihan mahasiswa.
Keuntungan manikin yang di produksi sendiri oleh FK UGM adalah harganya jauh lebih murah jika di bandingkan oleh manikin impor, suku cadang mudah didapatkan, perawatan dan perbaikan lebih murah karena terdiri dari instrumen yang sederhana, dll. Melihat banyaknya keuntungan ini maka untuk saat ini Bengkel Anatomi FK UGM sudah mendapatkan pesanan dari luar FK UGM maupun luar negeri.
Dengan inovasi ini, diharapkan pembiayaan Skills Lab sebagai sarana untuk berlatih keterampilan medis mahasiswa dapat lebih terjangkau dan tetap sesuai dengan standar yang diinginkan institusi. Dengan mempunyai bengkel sendiri, biaya untuk perbaikan, perawatan dan produksi manikin menjadi lebih efisien.
Kesimpulan dan Saran
Pendidikan keterampilan medis sangat penting bagi pendidikan dokter untuk mencapai kompetensi maksimal. Inovasi di Skills Lab dengan penggunaan manikin dipasang pada pasien simulasi untuk mengintegrasikan latihan komunikasi dengan prosedural medis, menempatkan mahasiswa untuk berlatih keterampilan medis di situasi klinis sehingga mengurangi beban Skills Lab, serta mendirikan bengkel untuk merawat, memperbaiki, dan memproduksi manikin sendiri ternyata sangat berguna untuk efisiensi biaya Skills Lab.
Referensi
• Bradley, P. and Postlethwaite, K. (2003). Setting up a clinical skills learning facility. Medical Education, 37, 6-13.
• Dornan, T., Littlewood, S., Margolis, S.A., Scherpbier, A., Spencer, J., and Ypinazar, V. (2006). How can experience in clinical and community settings contribute to early medical education? A BEME systematic review. Medical Teacher, 28, 1, 3-18.
• General Medical Council (GMC). (2003). Tomorrow’s Doctors Recommendations on undergraduate medical education. UK: General Medical Council.
• Hampshire. (1998). Providing early clinical experience in primary care. Medical Education, 32 (5), 495–501.
• Howe, A. and Anderson, J. (2003). Involving patients in medical education. BMJ, 327, 326-328.
• Kneebone, R., Kidd. J., Nestel, D., Asvall, S., Paraskeva, P., and Darzi, A. (2002). An innovative model for teaching and learning clinical procedures. Medical Education, 36, 628-634.
• Nielsen, D.G., Moercke, A.M., Hansen, G.W., and Eika, B. (2003). Skills Training in Laobratory and Clerkship: Connections, Similarities, and Differences. Medical Education online, 8, 12.
• Stark, P. and Fortune, F. (2003). Teaching clinical skills in developing countries: Are Clinical Skills Centres the answer?. Education for Health, 16, 3, 298-306.
by. Widyandana, MD, MHPE
Skills lab – Dept. Medical Education
Fac. of Medicine Gadjah Mada University,
Now, the author is PhD Student Maastricht University, Netherlands supervised by Prof. Albert Scherpbier, MD, PhD and Gerard Majoor, PhD
This paper Published on; STROMA ATMAJAYA, Jakarta, 2007
Contact for further discussion: widyandana@yahoo.com
Evaluation on Simulated Patients in Skills Lab Faculty of Medicine Gadjah Mada University
Abstract
Background: One of some important components in medical competency practice at Skills Lab FK UGM is by using Simulated Patient (SP) to help students to practice and to do their exams. These times, simulated patients are taken from non academic staffs from some departments at FK UGM who are willing to act as a patient to help students in learning medical competency. The problem in this research is that SP evaluation in medical competency at Skills Lab FK UGM has never been done yet.
The aim of this research is to evaluate simulated patient of medical competency education at Skills Lab FK UGM (the ability to play a role as a patient and to give feedback), apprehending the motivation of simulated patient in medical competency education at Skills Lab FK UGM and simulation patient’s hope of the SP’s training at Skills Lab FK UGM.
Method: The sample of the survey in this research is last year medical students (year 2003) from regular and international program with full PBL curriculum (133 students), continued by Focus Group Discussion (FGD) with simulated patients (16 peoples).
Results: The result of this research shows that the ability of acting and giving feedback to the students aren’t optimum yet, it is shown by some weakness which should be improved. So, we have to realize that the training for SP is very important and this training is approved by the students and simulated patients themselves. There are some motivations to be a simulated patient at Skills Lab School of Medicine Gadjah Mada University, such as: honorarium, motivation to learn and widen their knowledge about health, helping educational process, to be acquainted with many doctors and for a satisfaction. The SP’s recruitment process is basically needed considering the lack amount of SP and the work of SP become less optimum because of the fatigue they get in dealing with too many students in one session. An evaluation system is also needed to protect the quality of SP’s performance in helping the process of medical competency education in Skills Lab.
Suggestions: There are some suggestions coming from students and simulated patients by doing this research : training for SP is needed to be done, especially to increase the ability of playing a role and giving feedback so that SP could do their role best. SP’s training is given by a person who is competent or professional in his or her domain, and the training method could use the 4C/ID model. SP is given a chance to do preparations before the session starts by giving scenario, session protocol, and guide book of SP as soon as possible. Beside, there should be a briefing by an instructor who explains all things to the SP in accordance to his or her role a moment before the session start. The faculty has to pay attention of the barrier and hopes that isn’t yet fulfilled from SP (ex: about the honorarium) so that the work of SP could be increased. New process of recruitment is needed to add more numbers of SP at Skills Lab FK UGM; and a sequence of evaluation process is also needed to be done for the work of SP itself.
Keywords: simulated patients, assessments, acting, feedback.
by Widyandana, MD, MHPE. Coordinator for Simulated Patients in Skills Lab FM GMU.
Published on; Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan, AIPKI, 2006
Contact Person for full paper: widyandana@yahoo.com
Full paper tersedia dalam bahasa Indonesia
STUDENT AND TEACHER PERCEPTIONS ON SKILLS TRAINING PROGRAM AS A TOOL FOR IMPROVEMENT
SUMMARY
Context:
During the 4-year pre-clinical curriculum at the Faculty of Medicine Gadjah Mada University (FM GMU), Indonesia, medical students train clinical skills in the Skills Laboratory. Skills training plays a very important role in medical education, but once a skills training program is developed it needs to be maintained and improved. There has been no evaluation about the skills training program of FM GMU since it began in 1992. This study explored the strengths and weaknesses of the current program to guide the priorities of future improvements.
Objectives: to explore students’ and instructors’ perceptions on skills training program as a tool for improvement
Subjects: 129 Skills Lab instructors and 204 last year medical students of whom 40 follow the international program and 166 follow the regular program
Methods: The survey used a questionnaire for exploring instructors’ and students’ perceptions. The questionnaire consisted of 33 statements about various areas of the skills training program and one open question for suggestions for improvements.
Result: The survey results indicated that there are a few areas in the skills training that scored very positive and several areas that scored insufficient. Many different suggestions for improvement were obtained from the students and instructors.
Discussion: The main item that scored positive indicates that the topics for the skills training were well chosen. According to this research, the main areas that need improving are: the number and quality of equipment and manikins; the time keeping and teaching skills of the instructors; the organization of the independent practice sessions; the transparency of the Objective Structured Clinical Examination (OSCE), and the fees for the remediation sessions. For some of these topics solutions have already been implemented like a workshop to locally produce learning materials and the use of senior student as assistants in the independent training sessions. Other improvements are suggested like emphasizing the importance of role-modeling professional behavior in Training of Instructors (TOI). Suggestions are made for more specific research on the skills training program in the future.
Keywords: education, medical, undergraduate, skills training, evaluation, skills lab, perception, student, instructor
Widyandana, 2007, Master Thesis, Maastricht Netherlands, Supervisor: Marijke Kruithof
Contact Person for full paper: widyandana@yahoo.com